Selasa, 28 Juni 2011

APA JUDUL YANG TEPAT UNTUNK CERPEN INI??


“Ibu…bangun Bu, jangan tinggalkan kami….Ibu…Ibu….”, teriakan dan tangisan kami tak dihiraukannya sama sekali.
“ Ibu…Ibu..Ibu…ibu…”, kami terus menangis.
“ sudahlah Nak, relakan Ibu kalian pergi. Biarkan Ia pergi dengan tenang, jika kalian memang menyayanginya doakanlah agar ia mendapatkan tempat yang indah disisiNya”, nasehat seorang perempuan yang sudah tak asing lagi.
            Wanita yang sudah renta itu terus menasehati, berusaha untuk melapangkan hati kami, agar dapat merelakan kepergian Ibu kami. Namun tak satupun kata yang keluar dari mulut wanita itu yang masuk dalam telinga, tangisan kami malah semakin menjadi-jadi saat ibu dibawa oleh mereka beramai-ramai.
“ibu…ibu… kakak..ibu kak, ibu mau dibawa kemana kak?”, Tanya adikku yang masih berumur 5 tahun, sambil menarik-narik lenganku.
“ kakak punya permen dikamar, adik mau? Ayo.. kita ambil permennya dikamar kakak”, aku tak dapat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih terlalu kecil untuk dapat mengerti dan menerima semua ini. hatiku semakin trenyuh melihat kakakku yang sedari tadi hanya diam saja, namun sungai-sungai kesedihan membelah pipinya yang mungil.


Di sudut perumahan kecil yang kumuh tua yang sudah tak terawat lagi. Mungkin penghinunya sudah muak dan sangat kumal, berjejer gedung-gedung dengan rumah-rumah itu, mereka memilih tinggal di rumah baru. Tentunya di tempat lain yang jauh lebih aman dan menentramkan. Tempat ini sangat aneh atau mungkin lebih tepat lagi bila di sebut dengan  menyeramkan, banyak orang setempat menyebutnya dengan “bangunan-bangunan tua di sudut perumahan yang aneh”, namun ada juga orang-orang yang tak kalah anehnya dengan bangunan tua itu menyebutnya dengan sebutan bangunan tua yang sangat unik. Tak hanya orang aneh itu saja, kebanyakan orang asing juga menyebutnya dengan bangunan yang sangat unik dan mengagumkan. Meski telah berdiri berpuluh-puluh tahun yang lalu, bangunan-bangunan itu masih berdiri megah tak gentar termakan waktu.
Walaupun masih berdiri gagah bangunan-bangunan itu telah nampak usang, sudah tak bisa di pastikan lagi warna cat dindingnya. Warna lumpur dan warna debu mungkin  lebih cocok untuk menyebutkan  warna dari bangunan-bangunan itu.
Bangunan yang nampak dari luar berdiri dengan gagahnya itu, konon menyimpan sejuta cerita misterius.
Entahlah orang-orang pintar dari kota menyebutkan bahwa cerita itu menceritakan tentang pertengkaran nenek moyang kami, yang sangat mempercayai dan sangat mencintai ilmu-ilmu kuno, mantra-mantra dan sejenisnya. Spontan tersirat sebuah pertanyaan dibenakku:
“Tau apa orang-orang kota itu tentang daerah kami, mereka tak pernah  mengikuti setiap kejadian yang terjadi di masa lampau ataupun di masa kini, mereka tak pernah benar-benar memperdulikan daerah kami, mereka juga belum pernah tinggal dan benar-benar mengamati daerah kami. Mereka itu sok tau atau memang benar-benar tau?  Mereka hanya peduli setahun sekali itupun mungkin karena terpaksa, karena mereka membutuhkan tempat kami untuk keperluan menyelesaikan skripsi atau tugas-tugas dan keperluan apalah, penelitian katanya. Tentu kami yang tak berpendidikan tinggi ini tak dapat mencerna beribu celotehan mereka. Banyak penjelasan mengapa mereka datang ke daerah  kami yang tak dapatku pahami .
            Aku, adil anak dari daerah yang aneh itu, aku anak nomer dua dari tiga bersaudara.  Kakaku bernapa apul, dan adikku yang usil bernama pegy.
“Kring….kring ,…..” suara telepon berdering.
“ angkat, dil…..” suara apul, dari dapur.
“kenapa harus aku?” protesku.
“angkat saja, jika masih ingin hidup nyaman”  apul mengancam.
“ pasti anak dekil itu lagi, apa lagi yang telah ia perbuat hingga membuat seisi rumah ini tak pernah tenang”.
“ hallo….saya adil, dengan siapa saya bicara?”
“jika masih ingin hidup aman, datang malam ini juga ke tempat kesayangan adikmu yang manis ini” suara seorang lelaki.
“ ayo…. Bicaralah manis, ini kakakmu….minta tolonglah manis”,tambah lelaki itu.
“ kakak….tolong aku kakak… kakak, mereka membunn……..aaaaaaaww….”.
“pegy…hallo...pegy…pegy…apa kau baik-baik saja?” aku cemas.
“kau apakan adikku”, aku memberontak.
“ dia akan sedikit terluka jika kau sampai sedikit terlambat, jam 00.00 baby,…..jangan sampai lupa, kalau tidak ….tau sendiri akibatnya,   Eeeits.. sepertinya aku sedikit baik hati malam ini ada tawaran special discon 50%  kau boleh bawa ayammu”. Klik, telepon ditutup.
Preman itu bermaksud memberikan sedikit kebaikan yaitu dengan mengizinkanku datang berdua dengan kakakku, dengan kata “discon 50%” karena biasanya preman-preman itu jarang mengizinkan orang yang bermaksud membebaskan tawanannya datang berdua. Tak ada ampun lagi jika yang datang lebih dari sartu, yang menjadi taruhan ialah keselamatan tawanan itu sendiri.
“sialan”aku membanting telephon.
“ayo…kita beri hadiah yang special padanya”,
Adul langsung menguasai keadaan tak perlu menunggu penjelasan yang panjang lebar dariku, ia langsung paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum meninggalkan rumah kami menitipkan sesuatu terlebih dahulu pada tetangga dan meninggalkan sebuah perintah atau sejenisnya, memang sedikit sulit untuk dipastikan apakah itu sebuah pesan atau perintah. Anggap saja pesan yang harus dikerjakan. Kami harus menempuh perjalanan selama 30 menit hanya dengan berjalan kaki, karena tidak mudah untuk mendapatkan angkutan atau taksi dan sejenisnya tengah malam seperti ini.        Rintik-rintik hujan menemani perjalanan yang sangat menjengkelkan ini, hampir setiap hari brandal-brandal itu menghibur kami dengan lelucon-lelucon yang seperti ini, lelucon yang sudah sangat-sangat basi. Malam ini brandal-brandal itu pasti sudah menyiapkan lelucon yang sangat attractive.

“dimana brandal-brandal itu?” gumam apul sambil menggenggam tangan tak sabar ingin bermain-main dengan mereka.
“ jangan tunjukan wajahmu yang bersungut-sungut itu, mereka akan sangat terhibur melihat mu seperti itu, karena kau telah memberikan sesuatu yang sangat mereka dambakan”, aku memperingatkannya.
“Mereka mendambakan pukulan tanganku, sudah lama genggaman tangan ini tak mendarat di pipi mereka yang hancur”, ucap apul sambil menyingkirkan sarang-sarang laba-laba yang lumayan lebat mengganggu pencarian kami.
“ mereka mungkin membohongi kita”, aku mulai meragu.
“apa maksudmu? Bagaimana jika mereka benar-benar …….”,apul tidak melanjutkan ucapannya.
Kami  memasuki sebuah bangunan besar yang lebih mirip seperti gudang. Kami berpencar menelusuri lorong-lorong yang ada dalam gedung itu. Di ujung sebuah gang yang aku telusuri aku menemukan sebuah tusuk gigi, dan beberapa jejak sepatu. Aku yakin mereka bersembunyi tak jauh dari tempat ini, entahlah apa maksut mereka bermain kucing-kucingan seperti ini, tak seperti biasanya. Biasanya jika mereka mnenginginkan sebuah pertemuan negosiasi tak pernah seperti ini, mungkin inilah salah satu taktik baru yang akan mereka perkenalkan pada kami. Apapun alasannya aku sebenarnya tak bagitu memperdulikannya, untuk sekarang ini yang terpenting adalah keselamatan adikku.
Aku mencium bau asap rokok yang lumayan sangat kuat, sebagai seorang lelaki tentu aku sangat hafal betul sejak kapan asap ini di tinggalkan oleh perokonya, memang belum lama. Aku tak tau dimana adul berada saat ini, sejak kami berpisah tadi aku tak tau lagi dimana keberadaannya. Mungkin ia juga belum menemukan persembunyian brandal-brandal itu, atau ia sekarang tengah asing menemukan jejak-jejak yang sama seperti yang aku temukan. Kakakku sangat pemberani, mungkin saat ini ia sedang mengikuti jejak-jejak sepatu itu seorang diri tanpa perluku temani.
Lelah memutari lorong-lorong gelap, aku menyandarkan tubuh sebentar di sebuah tembok. Tiba-tiba aku mencium bau amis yang ternyata berdasar dari tembok yang aku sandari. Aku membelokkan badan,
“ astaga….”, aku terkejut saat menyaksikan darah yang berlumuran di tembok.
“darah apa ini ? masih segar”, tiba-tiba aku teringat pada apul.
“apul….apul….apul…., dimana kau?”, aku berteriak-teriak mencari apul, dan berlari-lari menyusuri lorong-lorong gelap. Saat itu juga otakku menerawang keadaan pegy, sedang diapakan dia saat ini? apakah dia baik-baik saja? Ah tak mungkin jika brandal-brandal itu berani berbuat sesuatu padanya. Ku kira nyali mereka tak cukup besar untuk berhadapan dengan kepolisian.  Namun tersirat sebersit keber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

berikanlah saran yang objektif dan bersifat membangun